How to Train Your Dragon (3D)

Penulis           : Cressida Cowel

Studio             : Dreamworks

Produksi        : Paramount Pictures

Genre              : Petualangan, Fantasi

Tipe                  : CG (Computer Graphics)

Format            : DVD

Rating              : Remaja

Tahun               : 2010

“Ini adalah Pulau Berk. Jika tempat lain punya hama tikus dan belalang, kami punya… Naga.”


How to Train Your Dragon adalah film animasi yang diangkat dari novel tahun 2003 berjudul sama karya Cressida Cowel. Di penghujung lautan yang keras dan kurang beredab, terdapat Pulau Berk; tempat tinggal sekelompok bangsa Viking yang gagah perkasa, berotot tebal, serta pemberani (juga keras kepala), hidup damai dengan berburu dan menggembalakan domba. Tentu saja ada hama-hama nakal yang berusaha mencuri ternak mereka… Ups; bukan tikus, belalang, gagak, atau si kancil, tapi… NAGA! Bertarung melawan makhluk bersayap penyembur api ini adalah tugas mulia bagi bangsa Viking; maka seorang remaja terlemah (juga terkurus) di antara bangsa Viking lainnya: Hiccup Horrendeous Haddock III (Jay Baruchel), bermaksud ikut maju di baris depan. Walau dia murid pintar dari pandai besi Gobber the Belch (Craig Ferguson), Hiccup sangat lemah dan ceroboh, sehingga Stoic the Vast (Gerard Butler), ketua suku Viking sekaligus ayah Hiccup, melarangnya. Untuk membuktikan diri, Hiccup memakai pelontar meriam buatannya sendiri untuk menjatuhkan Night Fury, naga paling berbahaya, kuat, dan tak pernah dilihat sosoknya. Walau dia berhasil, tapi tak ada yang percaya. Hiccup pun nekat pergi ke tengah hutan tempat naga itu jatuh, untuk mengambil bukti kepalanya. Hiccup bertemu naga hitam yang sebenarnya tidak terlalu besar ini, yang jatuh di dekat danau karena sayap ekornya putus sebelah. Pada akhirnya Hiccup tak tega untuk membunuh naga itu dan membiarkannya, bahkan dia tidak mau lagi ikut bertempur karena takut. Sayangnya  ayah Hiccup terlanjur mendaftarkannya menjadi murid di tempat latihan khusus melawan naga, sehingga Hiccup kebingungan.

Apa Sebenarnya “Naga” Itu?

Di tengah kebingungan itu Hiccup mengunjungi naga hitam tersebut, lalu tanpa sengaja bersahabat dengannya dan memberinya nama Toothless (tak bergigi) karena melihatnya tidak punya gigi (sebenarnya punya, tapi disembunyikan). Melalui Toothless, Hiccup mempelajari setiap karakteristik naga: suka makan ikan, tidak tahan dikelitik di dagu, suka menangkap cahaya layaknya seekor kucing, dan… tidak agresif! Pandangan Hiccup tentang naga dari yang dipercayai bangsa Viking selama ini berubah; mereka bukanlah mahkluk buas kejam yang haus darah, tetapi hanya binatang liar yang suka berkelompok seperti singa dan bisa terbang seperti burung. Semua pengetahuan ini membuat Hiccup menaklukkan berbagai naga di tempat latihan tanpa kekerasan, membuat  Astrid Hofferson (America Ferrera) sang murid unggul iri. Persahabatan Hiccup dan Toothless semakin erat sampai Hiccup membuatkan sayap baru dan pelana; menunggangi Toothless, juga belajar mengendarainya dan menjadi penunggang naga pertama. Namun ayah Hiccup tak lama mengetahuinya dan marah besar; bahkan mengikat Toohtless dan mengurung Hiccup sebagai pengkhianat bangsa Viking. Tapi Hiccup tak menyerah. Bersama-sama Astrid, Snotlout Jorgenson (Jonah Hill) yang sok jago tapi berani, Tuffnut dan Ruffnut Thorston (T.J. Miller dan Kristen Wiig) anak kembar yang selalu bertengkar, Fishlegs Ingerman (Cristhoper Mintz-Plasse) anak gembul yang hafal semua status naga (ala RPG), Hiccup dan Toothless menemukan rahasia dari bangsa naga, serta alasan mereka terus menyerbu Pulau Berk. Walau bertaruh nyawa, Hiccup bersikeras membuktikan bahwa manusia dan naga bisa hidup bersama dengan saling memahami.

Pemahaman Terhadap Sesama

Film yang luar biasa ini menunjukkan dengan jelas bahwa tidak semua yang kita percayai selalu benar. Sudah sejak lama kita harus selalu mendengarkan orang lain, berbicara serta berpikir dahulu sebelum menduga-duga yang buruk, dan tak main hakim sendiri. Kenyataannya memang masih banyak sekali orang yang mudah terpancing amarah dan membuat perkelahian, yang semuanya berujung pada penderitaan keluarga serta korban warga. Namun dengan memahami satu sama lain, kita bisa menghindari pertikaian tak perlu dan membangun ikatan kekeluargaan antar sesama kita, walau berbeda dalam banyak hal.Hendaknya kita belajar dari film ini; sabar mendegarkan orang lain, berani untuk mengetahui kebenaran, dan menyelesaikan masalah tanpa kekerasan.

“Sekali lagi, ini adalah Pulau Berk. Jika tempat lain punya hewan setia anjing, kucing dan burung, kami punya… Naga.”

Nilai:

Grafis           : 90    A+

Suara           : 85    A+

Cerita           : 95    A+

Keseluruhan : 90 A+

E (0-20)        : Parah

D (21-40)      : Buruk

C (41-60)      : Kurang

B (61-80)      : Lumayan

A (81-99)      : Bagus

S (100)         : Sempurna!